Wednesday, August 4, 2021

Akibat Doyan Minuman Manis dan Rebahan

Waspadai Risiko Penyakit Akibat Doyan Minuman Manis dan Rebahan

Minuman manis memang terasa nikmat. Apalagi jika kita mengonsumsinya dalam kondisi dingin ketika cuaca sedang panas. Sayangnya, kebiasaan konsumsi minuman manis bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. 

Apalagi jika dipadukan dengan pola hidup kurang gerak dan banyak rebahan (sedentary). Belum lama ini, topik mengenai kebiasaan minum minuman manis juga menjadi perbincangan di media sosial Twitter melalui sebuah utas yang diunggah akun @afrkml. 

Banyak dari kita yang sebetulnya sudah menyadari risiko kesehatan di balik kebiasaan mengonsumsi sesuatu yang manis. Tapi, karena efeknya tak langsung terlihat, banyak yang mengabaikannya. "Efek kesehatan tersebut tidak langsung terlihat. 

Makan banyak hari ini besok langsung kejadian, enggak. Butuh waktu lama yang secara kronik atau bertahun-tahun," ungkap dr Raissa Edwina Djuanda, MGizi, SpGK kepada Kompas.com, Rabu (04/08/2021).   

Gejala baru dapat terlihat ketika kita sudah terkena penyakit tertentu akibat terlalu banyak minum minuman manis. Misalnya, seseorang yang terkena diabetes dapat mengalami gejala awal seperti banyak makan dan minum, serta banyak buang air kecil. 

Orang tersebut juga mungkin mudah sekali merasakan haus. "Jadi memang harus waspada kalau kita jadi gampang banget haus, minumnya jadi banyak banget, gampang lapar, ditambah buang air kecil juga banyak," tuturnya. 


Ancaman penyakit 

Kebiasaan minum minuman manis seiring waktu dapat menyebabkan seseorang mengalami obesitas. Menurut dokter yang berpraktik di MMC Hospital dan RSPI Puri Indah itu, obesitas dapat memicu sejumlah kondisi kesehatan lain, seperti diabetes, sindrom metabolik, perlemakan hati, kolesterol, obstruktif sleep apnea, hingga masalah kesehatan mental seperti depresi. 

Saat ini, banyak pula yang mengalami sindrom polikistik ovarium (PCOS) akibat kebiasaan minum minuman manis. Komplikasi obesitas juga dapat menyebabkan kondisi seperti asam urat, gangguan sendi, dan lainnya. 

"Jadi kalau sudah kena obesitas sebenarnya penyakit lain mengikuti," ungkap dokter yang juga berbagi konten seputar gizi lewat akun YouTube "Dokter Raissa Djuanda" itu. Raissa juga mengingatkan bahwa komplikasi obesitas juga bisa terjadi pada orang-orang di usia muda. 

Beberapa pasiennya bahkan berusia di bawah 17 tahun. "Saya menemukan beberapa kasus anak yang usianya di bawah 17 tahun beberapa di antaranya sudah mengalami hipertensi atau darah tinggi akibat kegemukan." 

"Jadi harus hati-hati karena dari anak saja ternyata sudah bisa mengalami komplikasi ini," tuturnya. 

Mengurangi kebiasaan minum minuman manis Minuman seperti boba atau es kopi susu dengan gula aren memang menyegarkan. Tapi, penting untuk diperhatikan agar kita tak mengonsumsi gula harian berlebih. 

Sebab, mengonsumsi sesuatu yang manis dapat menimbulkan kecanduan. Alih-alih berhasil mengontrolnya, porsi yang kita konsumsi malah bisa bertambah dari hari ke hari. Menurut Raissa, penting untuk berusaha membiasakan diri untuk tidak makan atau minuman manis. 

"Sifatnya gula ini adiktif. Jadi kalau kita sudah terbiasa pasti kita akan cari terus," ucapnya. Jika kita mengonsumsi minuman kemasan, pastikan melihat tabel gizi sebelum meminumnya. Pilihlah produk dengan kandungan gula yang lebih sedikit. 

Namun, di luar minuman kemasan, kita harus cermat menghitung gula yang kita asup. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), rekomendasi asupan gula harian sebaiknya tak lebih dari 50 gram atau empat sendok makan. 

Jika kita mengonsumsi minuman dengan dua sendok makan gula, maka pastikan di sisa hari itu kita tak mengonsumsi gula lebih dari dua sendok makan baik dari makanan maupun minuman. 

"Jadi dihitung saja. Misal sudah minum kopi dua sendok, artinya jatah harian hanya sisa dua sendok makan lagi. Itu mungkin sudah terpenuhi dari makanan dan minuman yang diasup selain kopi tadi." "Jadi, jangan ditambahkan yang manis-manis lainnya," kata Raissa.


Sumber:

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/08/05/105218820/waspadai-risiko-penyakit-akibat-doyan-minuman-manis-dan-rebahan?page=all#page2.

Thursday, July 15, 2021

Sukses Turun 68 kg dengan Jalan Kaki

Obesitas dan Hipertiroid, Wanita Ini Sukses Turun 68 kg dengan Jalan Kaki 

Sepanjang hidupnya, wanita asal Fargo, North Dakota bernama Roxanne Mullenberg selalu kelebihan berat badan hingga obesitas dan membuat gaya hidupnya jadi kurang aktif. Ditambah lagi, dokter mendiagnosis dia dengan penyakit hipertiroid yang dapat mempersulitnya untuk menurunkan berat badan tanpa pengobatan. 

Namun rupanya ia bertekad hidup lebih sehat dan berusaha mengurangi lemak di tubuhnya. Sementara dokter mengatur pengobatan yang tepat, Mullenberg memutuskan untuk berpartisipasi mengikuti tantangan berjalan kaki bersama dengan teman-temannya.    

Saat dia memulai tantangan itu pada Februari 2020, beratnya sudah mencapai 358 pon atau sekitar 162 kg. "Saya mencoba berbagai hal untuk memperbaiki kebiasaan hidup saya, dan berjalan kaki memberikan motivasi yang berbeda," kata wanita yang bekerja sebagai manajer di sebuah bank itu. 

Tetapi, sebulan memasuki tantangan berjalan kaki, pandemi Covid-19 melanda. Tiba-tiba, Mullenberg harus bekerja dari rumah dan membantu putranya, Ryan (11 tahun), yang harus bersekolah secara online. 

Kendati demikian, pandemi tidak menghentikan langkahnya untuk mencapai kehidupan yang lebih sehat. "Saya tetap berjalan-jalan untuk melepaskan stres. Berjalan kaki sangat bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental," terangnya. 

"Saya juga membawa anak saya berjalan-jalan ke luar rumah dan kami berdua sangat menikmati kegiatan yang menyenangkan ini," lanjut dia. Mengubah pola makan Selain berjalan kaki sehari, Mullenberg juga mulai memeriksa kebiasaan makannya. 

Dia bahkan mengikuti sebuah program makan yang lebih sehat dengan berfokus pada penambahan protein tanpa lemak, sayuran, buah-buahan, dan beberapa pati. Pada minggu pertama mengikuti program makan sehat itu, dia kehilangan berat badan hingga 11 pon atau sekitar 4,9 kg. 

Awalnya dia hanya mengonsumsi shake untuk sarapan. Sedangkan makan siang dia mengonsumsi protein bar. Untuk camilan dan makan malam dia mengonsumsi protein tanpa lemak dan sayuran. Sekarang, dia mengonsumsi shake untuk sarapan, dua batang protein untuk camilan, serta protein tanpa lemak dan sayuran untuk makan siang dan makan malam. 

"Saya menambahkan buah-buahan yang bisa dimakan saat sarapan dan di malam hari. Saya juga menambahkan pati saat makan siang dan makan malam," katanya. Mullenberg biasanya berjalan 40 menit setelah makan siang dan kemudian berjalan-jalan di malam hari bersama sang anak. 

Sejak tahun lalu, dia telah menurunkan berat badan total sebanyak 149,5 pon atau sekitar 68 kg. "Saya jadi memiliki lebih banyak energi dan saya mendapatkan kepercayaan diri lagi," ujarnya. 

Pelajaran yang diambil Melalui pengalamannya tersebut, Mullenberg belajar lebih banyak tentang dirinya sendiri. Dia pun berbagi beberapa tips untuk orang lain yang mungkin juga ingin mengubah kebiasaan hidupnya menjadi lebih sehat. 


1. Lakukan sesuatu untuk diri sendiri 

Banyak orang melihat olahraga dan makan sehat sebagai tugas. Padahal, itu benar-benar cara untuk menunjukkan cinta kita pada diri sendiri. "Saya salah satu dari orang-orang yang tidak benar-benar meluangkan banyak waktu untuk diri saya sendiri. Saya selalu melakukan sesuatu untuk orang lain," ungkapnya. 

"Salah satu hal terbesar bagi saya sekarang adalah lebih peduli dan melakukan sesuatu untuk diri saya sendiri," tambah dia. 


2. Mengubah pola pikir 

Mengubah kebiasaan makan dan olahraga bisa terasa berlebihan dan itu bisa membuat beberapa orang putus asa. Ketika kita harus menambahkan lebih banyak sayuran ke dalam menu makanan, cobalah untuk mengubah pola pikir agar makanan ini memiliki rasa yang sama enaknya dengan makanan tidak sehat. 

"Itu dapat mengubah pola pikir kita, sehingga kita lebih terbuka untuk mencoba hal-hal baru dan menjadi kreatif," imbuhnya. 


3. Tentukan tujuan yang masuk akal 

Ketika Mullenberg memulai penurunan berat badannya, dia bahkan tidak memikirkan target berat badan. Namun, seiring berjalannya waktu dia memiliki tujuan yang tetap yakni menurunkan berat badan dan merasa lebih baik tentangnya sendiri. 

Dia juga memutuskan untuk lebih banyak mendengarkan tubuhnya selama proses penurunan berat badannya. "Bagi saya, itu hanya mencari tahu ke mana tubuh saya ingin pergi. Jika tubuh saya akan stabil di tempat saya berada sekarang, saya juga akan sangat senang dengan itu," pungkasnya.


Sumber :

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/07/16/083058220/obesitas-dan-hipertiroid-wanita-ini-sukses-turun-68-kg-dengan-jalan-kaki?page=all#page2

Thursday, January 28, 2021

Bersepeda dan Perut Buncit

Apakah Bersepeda Efektif untuk Usir Perut Buncit

Selain mengurangi rasa percaya diri, berat badan berlebihan mengundang berbagai macam penyakit. Maka tak heran banyak orang melakukan segala cara untuk menurunkan berat badan, salah satunya dengan bersepeda. 

Namun, apakah bersepeda efektif untuk melunturkan lemak di area perut yang menjadi biang masalah perut buncit? 

Berikut Penjelasan Dokter Olahraga sepeda termasuk bagian dari olahraga kardio. Melansir Hello Sehat, olahraga kardio adalah olahraga untuk meningkatkan detak jantung, di mana jantung tersusun dari otot-otot. 

Jadi, olahraga kardio lebih berperan dalam menurunkan berat badan secara keseluruhan, bukan hanya fokus untuk menghilangkan lemak perut. Untuk membasmi lemak perut dibutuhkan olahraga lain yang lebih efektif dalam membakar lemak di perut, seperti sit up, side plank, low plak, circles in the sky, squat, dan olahraga lainnya yang lebih fokus ke otot perut. 

Riset dari Harvard menunjukkan bahwa olahraga kardio, seperti berlari, berenang, dan bersepeda bukan merupakan cara terbaik dalam menghilangkan lemak perut. Cara terbaik menghilangkan perut buncit Lalu, bagaimana cara efektif untuk membasmi perut buncit? 

Melansir laman WebMD ada empat faktor yang harus kita kendalikan untuk membasmi lemak di perut. Berikut faktor-faktor tersebut: 


1. Olahraga 

Rutin berolahraga membantu memangkas semua lemak di tubuh, termasuk lemak perut. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, lakukanlah olahraga dengan intensitas sedang setidaknya 30 menit sebanyak lima kali dalam seminggu. 

Kita bisa melakukan olahraga sederhana seperti jalan kaki namun dengan intensitas berjalan yang cepat sehingga tubuh mengeluarkan keringat dan detak jantung berpacu lebih cepat dari biasanya. Kuncinya adalah kita harus tetap aktif dengan berolahraga karena gaya hidup pasif hanya akan memicu penumpukan lemak perut. 


2. Terapkan pola makan sehat 

Konsumsi serat yang cukup sangat membantu dalam membakar lemak di area perut. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang makan 10 gram serat larut per hari membantu mencegah penumpukan lemak visceral dari waktu ke waktu. Bahkan, manfaat tersebut bisa kita dapatkan meski tanpa mengubah pola makan harian kita. 


3. Tidur yang cukup 

Riset membuktikan orang yang tidur 6 hingga 7 jam per malam mendapatkan lebih sedikit lemak visceral dibandingkan dengan orang yang tidur kurang dari lima jam per hari. Hal ini turut membuktikan bahwa tidur sangat berperan penting bagi kesehatan termasuk upaya penurunan berat badan kita. 


4. Stres 

Mengelola stres dapat membantu kita dalam mengecilkan perut buncit. Cobalah untuk bersantai dengan keluarga atau teman, bermeditasi, atau berolahraga santai untuk membuat kita tetap bahagia dan terhindar dari stres.


Sumber :

https://health.kompas.com/read/2020/02/13/060200268/apakah-bersepeda-efektif-untuk-usir-perut-buncit-?page=all.

Wednesday, December 16, 2020

Bersepeda atau lari

Bersepeda atau lari, mana yang lebih efektif turunkan berat badan?

Antara lari dan bersepeda memiliki perbedaan dalam membakar kalori lho.

30 / 06 / 2020

Brilio.net - Sejak beberapa tahun terakhir, masyarakat sudah mulai peduli terhadap kesehatan. Banyak dari mereka yang kini menjalani gaya hidup sehat, mulai dari menjaga pola makan hingga melakukan olahraga.

Saat ini, sepeda menjadi olahraga yang lagi naik daun. Di mana pun bisa dilihat perkumpulan orang menggunakan sepeda. Saat melakukan olahraga, kunci utamanya adalah sesuaikan dengan kemampuan diri. Olahraga seperti bersepeda dan lari bisa jadi olahraga terbaik yang bisa dilakukan kapan saja.

Namun terkadang kita bertanya-tanya, antara lari dan bersepeda mana yang lebih baik untuk diri kita. Dilansir brilio.net dari Pinkvilla, Selasa (30/6) Secara umum, berlari membakar lebih banyak kalori daripada bersepeda karena menggunakan lebih banyak otot dan meningkatkan detak jantung. Namun, karena bersepeda tidak terlalu intens, kamu mungkin bisa melakukannya untuk waktu yang lebih lama.

Sementara itu, untuk kamu yang ingin mengencangkan otot, bersepeda bisa membantu kamu membangun otot di bagian bawah. Namun sebaliknya lari tidak membantu membangun otot tetapi ini dapat membantu kamu mengembangkan otot yang kencang.

Sementara itu, untuk menurunkan berat badan kamu bisa melakukan keduanya. Karena pada akhirnya penurunan berat badan adalah soal keseimbangan kalori. Di mana itu juga harus dikombinasikan dengan diet yang tepat.

Nah, untuk menjaga kesehatan jantung, bisa dengan olahraga aerobik yang dapat membantu memompa oksigen lebih efisien. Menurut para ahli, melakukan olahraga berat 5 jam seminggu sudah cukup untuk menjaga kesehatan jantung kamu.


Sumber :

https://www.brilio.net/olahraga/bersepeda-atau-lari-mana-yang-lebih-efektif-turunkan-berat-badan-2006303.html#

Pilih Olahraga Lari atau Sepeda?

Ingin Turunkan Berat Badan, Pilih Olahraga Lari atau Sepeda?

16 Juni 2019

Masyarakat urban saat ini mulai menyadari gaya hidup sehat dengan mengurangi berat badan. Caranya pun banyak. Misalnya dengan diet dan olahraga.

Apalagi, olahraga seperti lari, gym, hingga bersepeda saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang banyak diunggah di media sosial. Lantas jika tujuannya ingin membakar kalori, antara bersepeda dan berlari, manakah yang bisa cepat menurunkan berat badan?

Dilansir dari Live Strong, Minggu (16/6), keduanya bisa membakar kalori, meningkatkan kesehatan jantung, dan dapat disesuaikan dengan kantong. Bisa juga menggabungkan keduanya.

Secara umum, berlari dan bersepeda menurunkan jumlah kalori yang sama. Tetapi pengeluaran kalori yang tepat tergantung pada intensitas dan durasi latihan. Untuk meningkatkan jumlah itu, seseorang dapat menambah kecepatan, menambah tanjakan atau mencoba latihan interval, bergantian antara kecepatan dan periode pemulihan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit merekomendasikan cara tepat berlari dan bersepeda jika ingin membakar 300 kalori. Apa pun caranya, asal dilakukan dengan niat yang konsisten.

Pertama, 30 menit berlari dengan kecepatan 5 mil per jam. Kedua, 30 menit bersepeda dengan kecepatan lebih dari 10 mil per jam. Ketiga, 20 menit berlari dengan kecepatan 8 mil per jam. Keempat, 60 menit bersepeda dengan kecepatan kurang dari 10 mil per jam.

Baik bersepeda maupun lari bisa menjadi bagian dari rencana penurunan berat badan yang sukses. Total kalori yang terbakar tergantung pada berbagai faktor, termasuk intensitas, waktu, dan jarak.

Latihan interval dapat membantu meningkatkan pembakaran lemak. Ini bisa dimulai dari pemanasan lima menit, diikuti dengan satu menit bersepeda atau berlari cepat, kemudian dua menit pemulihan atau latihan intensitas rendah. Jika hal tersebut dilakukan dengan benar dan konsisten, maka rasakan hasil yang optimal.


Sumber :

https://www.jawapos.com/kesehatan/16/06/2019/ingin-turunkan-berat-badan-pilih-olahraga-lari-atau-sepeda/

Lari Vs Sepeda

Lari Vs Sepeda, Mana yang Lebih Baik? 

15/02/2019

Kamu mungkin memiliki teman atau anggota keluarga yang gemar mengikuti lomba maraton. Kamu juga mungkin saja memiliki kerabat yang sangat senang bersepeda. Atau, bisa juga salah satu dari olahraga tersebut adalah favoritmu. Lalu, dari keduanya mana yang sebetulnya lebih baik? 

Kamu memang tak perlu memilih salah satunya dan bisa melakukan keduanya. Sebab, jika kamu sedang ingin memulai rutinitas kardio, ada baiknya mengetahui mana jenis olahraga yang lebih baik dan cocok untukmu. 

Lari menggunakan lebih banyak otot, artinya lebih banyak pula pembakaran energi yang terjadi. Hal itu diungkapkan celebrity trainer tersertifikasi NASM sekaligus instruktur di Barry's Bootcamp, Astrid Swan. 

Meskipun lari dianggap banyak menggunakan kaki, namun otot inti dan bagian atas tubuh juga ikut bergerak. Lari mampu membakar sekitar 566-839 kalori setiap jamnya. Selain meningkatkan kesehatan jantung dan membakar kalori, lari juga bermanfaat bagi kesehatan secara keseluruhan. Swan mengatakan, lari memiliki manfaat jangka panjang. 

"Lari akan menimbulkan stres positif bagi tubuh dan mencegah osteoporosis." "Lari juga merupakan jenis olahraga yang bisa menguatkan jantung serta meningkatkan metabolisme," kata dia. Satu riset telah membuktikan, lari bisa membantu menguatkan kesehatan tulang. Meski hanya merupakan studi kecil, namun terungkap stres yang ditimbulkan karena aktivitas fisik yang menahan berat seperti lari dapat melindungi tulang lebih baik. 

Hal itu jika dibandingkan dengan aktivitas fisik tanpa menahan berat seperti bersepeda. Lari juga merupakan aktivitas fisik yang -relatif, tak memerlukan uang. Kamu hanya membutuhkan sepasang sepatu agar bisa berlari. Jadi, lari bisa menjadi pilihan cerdas. Bukan begitu? 

"Lari juga bisa dilakukan secara alami. Kamu tinggal melangkah saja," kata Swan. Nah, bersepeda memang tidak membutuhkan skill khusus, kecuali kamu bersepeda di luar ruangan. Tetapi, lari juga bisa dengan mudah disisipkan ke dalam aktivitas harianmu, di mana pun kamu berada. Jika kamu sedang bepergian, lari juga menjadi pilihan olahraga yang sangat praktis. Kamu hanya tinggal memakai sepatumu dan berlari. 

Namun, lari seringkali dikaitkan dengan risiko cedera, seperti patah tulang kering, retak tulang, sakit lutut, dan lainnya. Karena lari merupakan aktivitas berdampak tinggi (high-impact activity), maka penting untuk memperhatikan kondisi tubuhmu, sehingga cedera bisa dihindari. 

Trainer tersertifikasi NASM, sekaligus instruktur Peloton Bike and Tread, Olivia Amato mengungkapkan pandangannya. Menurut dia, salah satu manfaat bersepeda adalah dampak yang tidak terlalu besar terhadap sendi. Sehingga, bersepeda bisa menjadi pilihan olahraga yang tepat bagi yang baru memulai olahraga. 

Jika kamu memiliki lutut yang cedera atau harus menghindari olahraga high impact, kamu bisa memilih olahraga sepeda sebagai pengganti kardio high impact, seperti lari. Meski merupakan kardio low impact, namun bersepeda juga bisa membakar kalori dan memberikan manfaat kardio yang sama. Bersepeda bisa membakar sebanyak 498-738 kalori dalam satu jam. Selain itu, Swan menjelaskan, bersepeda bisa membantu membangun otot terutama otot kaki. 

Sebab, ketika bersepeda kita akan bekerja melawan resistensi dan menggunakan glute serta quad untuk memacu kecepatan. Manfaat lainnya dari bersepeda adalah kita bisa melakukan banyak hal sambil bersepeda. Misalnya, pergi ke kantor, swalayan, atau tempat lainnya. Penelitian ilmiah pun menunjukkan beragam manfaat olahraga ini terhadap kesehatan. 

Sebuah studi besar mengaitkan aktivitas bersepeda ke tempat kerja dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular, kanker, dan penyebab kematian secara umum. Dengan kata lain, bersepeda juga bisa membantu kita untuk hidup lebih lama. Namun, salah satu hal negatif dari bersepeda adalah biaya. 

Bersepeda bukanlah olahraga gratis. Jika ingin mengikuti kelas bersepeda, kamu harus rela mengeluarkan uang yang tidak murah. Sementara jika ingin bersepeda di luar ruangan, kamu juga membutuhkan sepeda yang mumpuni. Jadi, jika biaya adalah salah satu pertimbangan utamamu, sepeda bukanlah opsi yang tepat. 

Mana lebih baik? 

Faktor krusial yang harus dipertimbangkan ketika memilih jenis olahraga adalah, kamu harus memilih olahraga yang membuatmu bahagia dan bisa dilakukan secara berkelanjutan. Jadi, jika kamu mencoba lari namun tidak merasa suka dengan olahraga tersebut, kamu bisa mencoba bersepeda atau bahkan jenis olahraga lainnya. 

Apa pun yang kamu pilih, kamu akan mendapatkan latihan kardio yang luar biasa. Faktanya, sebuah penelitian menemukan, jika kita bekerja pada upaya yang sama (khususnya dengan persentase VO2Max yang sama), kita akan mendapatkan peningkatan daya tahan yang sama dari berlari maupun bersepeda. Dua jenis olahraga tersebut juga mampu membakar kalori dalam jumlah yang sama-sama signifikan. 

Menurut American College of Sports Medicine, lari umumnya membakar 566-839 kalori per jam, sementara bersepeda dengan kecepatan tinggi bisa membakar 498-738 kalori per jam. Selain itu, hal penting lainnya agar rutinitas olahragamu berkelangsungan adalah mulailah dengan perlahan. 

"Jangan berpikir kamu akan langsung bisa lari lima kilometer dalam satu hari. Kamu mungkin baru bisa berlari jarak pendek ketika memulai," kata Swan. Bangunlah ketahanan tubuhmu, dan terus menerus meningkatkan jumlah langkah. 

Jika tidak, bisa jadi kamu justru membenci olahraga tersebut karena menganggapnya terlalu berat dan pada akhirnya berhenti melakukannya. "Tahapan tersulit sebetulnya adalah memulai," kata Amato. Banggalah pada dirimu sendiri, karena sudah memulai olahraga. Sebab, hal itu adalah langkah yang penting. 

"Tak peduli di mana kamu memulai, perkembangan akan datang bersama dengan waktu dan usaha," tambah dia. Jadi kesimpulannya adalah, baik lari maupun bersepeda menawarkan manfaat kardiovaskular dan pembakaran energi yang sama. Pilihlah olahraga yang kamu suka dan sesuai dengan gaya hidupmu.


Sumber :

https://lifestyle.kompas.com/read/2019/02/15/060000720/lari-vs-sepeda-mana-yang-lebih-baik-?page=all.

Monday, November 23, 2020

Mitos Penyebab Kegemukan

Mitos Penyebab Kegemukan yang Tak Perlu Anda Percaya

dr. Alvin Nursalim, SpPD

09 Nov 2020, 14:10 WIB


Banyak mitos seputar penyebab kegemukan yang beredar luas di masyarakat. Jauhkan diri dari hoaks yang menyesatkan, dengan mengetahui fakta medis berikut ini!

Kegemukan adalah masalah kesehatan yang sering ditemukan dewasa ini. Keadaan yang dikenal dengan sebutan obesitas ini harus dihindari, karena merupakan salah satu faktor risiko diabetes, penyakit jantung, dan stroke.

Setiap orang mesti membekali diri dengan pengetahuan mengenai obesitas, agar tak lagi terjebak mitos keliru yang beredar luas.


Berikut ini adalah mitos terkait penyebab kegemukan beserta fakta medis yang sebenarnya:


1. Obesitas Disebabkan Oleh Kondisi Genetik

Fakta: tidak sepenuhnya benar.

Obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang dapat dan yang tidak dimodifikasi. Faktor yang dapat dimodifikasi adalah gaya hidup, pola makan, dan olahraga. Sedangkan faktor yang tidak dapat dimodifikasi adalah genetik.

Dengan kata lain, gen kegemukan bukanlah vonis mutlak Anda akan mengalami kondisi tersebut. Risiko Anda mengalami kondisi tersebut dapat diminimalkan dengan menerapkan gaya hidup sehat, pola makan seimbang, dan olahraga teratur.


2. Obesitas Akibat Kondisi Tulang yang Besar

Fakta: salah.

Sebagian orang memang terlahir dengan massa, volume, dan dimensi ukuran tulang yang lebih besar. Namun, hal tersebut bukanlah penyebab kegemukan.


3. Gemuk Karena Kebanyakan Minuman Bersoda

Fakta: benar

Minuman bersoda memiliki kandungan gizi yang rendah, dengan kadar kalori yang tinggi. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan risiko kegemukan jika dikonsumsi terus-menerus.


4. Obesitas Tidak Berhubungan dengan Diabetes

Fakta: salah

Seperti telah disinggung sebelumnya, obesitas adalah salah satu faktor risiko penyakit diabetes. Bahkan, orang dengan diabetes yang mengalami kegemukan berisiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi yang fatal.


5. Obesitas Akibat Malas Gerak

Fakta: benar

Kurang olahraga dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Malas bergerak membuat proses pembakaran kalori kurang maksimal. Apabila hal tersebut dikombinasikan dengan asupan makanan yang tidak seimbang, risiko obesitas bisa semakin tinggi.


6. Makan Buah dan Sayur Pasti Menurunkan Berat Badan

Fakta: tidak sepenuhnya benar

Buah dan sayur adalah pilihan makanan yang baik untuk kesehatan. Namun, Anda perlu memperhatikan jenis buah dan sayur yang dikonsumsi.

Hindari buah dan sayur yang sudah diawetkan atau yang sudah diproses dengan tambahan gula maupun pemanis buatan.

Kandungan gula dan garam pada produk buah atau sayur yang diawetkan dalam bentuk asinan maupun manisan cenderung tinggi. Hal ini dapat menyebabkan obesitas, khususnya jika dikonsumsi berlebihan.

Jika Anda sedang dalam program menurunkan berat badan, pilihlah jenis buah dan sayuran segar. Hindari pula mengolahnya dengan tambahan gula atau garam.


Cegah obesitas dengan menerapkan gaya hidup sehat, pola makan bergizi seimbang, dan rutin berolahraga. Bekali pula diri Anda dengan pengetahuan mengenai obesitas, agar tidak lagi terjebak mitos keliru yang beredar luas.


Sumber :

https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/2696058/mitos-penyebab-kegemukan-yang-tak-perlu-anda-percaya

Manfaat Jalan Kaki

8 Manfaat Jalan Kaki di Pagi Hari untuk Kesehatan 23/09/2023 Berjalan kaki secara rutin sangat bermanfaat untuk kesehatan, seperti untuk men...

Related Posts